"Peu rukok?", tanya si abang asongan.
Sejenak sikawan menoleh ke arahku meminta persetujuan mau rokok apa.
"Barangkapeu jeut", aku jawab sekenanya.
Si kawan meminta rokok putih primadona sejuta umat yang berlogokan huruf A itu. Sejurus kemudian hanya asap yang mengepul dari mulutnya. Aku pun juga ikut menyulut sembari menghembuskan asap yang katanya sebangsa racun itu.
Namun yang menarik perhatianku bukanlah nikmatnya rokok yang kami dapat malam itu, tapi yang membuat kagum adalah si abang pengasongnya sendiri.
"Barangkapeu jeut", aku jawab sekenanya.
Si kawan meminta rokok putih primadona sejuta umat yang berlogokan huruf A itu. Sejurus kemudian hanya asap yang mengepul dari mulutnya. Aku pun juga ikut menyulut sembari menghembuskan asap yang katanya sebangsa racun itu.
Namun yang menarik perhatianku bukanlah nikmatnya rokok yang kami dapat malam itu, tapi yang membuat kagum adalah si abang pengasongnya sendiri.
Disaat anak muda lain se kota Banda Aceh sedang disibukkan oleh big match Premier League antara Chelsea vs Liverpool, beliau malah larut menjejal kesempatan mengais rupiah di setiap jengkal warong kupi dengan keranjang kecil terikat ke dadanya.
Di dalam keranjang itu berjejar rapi bungkusan rokok dan makanan-makanan ringan yang di jajakan. Raut wajahnya tampak lelah tapi di saat yang sama juga ada semangat yang segar terpancar disana. Mungkin dia berkesimpulan, hidup tak memberinya banyak pilihan untuk menyerah sama rintangan kecil bernama lelah. Dia berjuang untuk hidupnya sendiri, melakukan apa yang bisa selama tetap di atas guideline bernama halal. Makanya senyum walau sedang begitu lelah adalah keharusan baginya.
Sejenak aku berpikir, apa yang sudah aku lakukan minimal untuk hidupku sendiri?
Sejauh apa aku sudah berjalan meraih apa yang aku mau?
Sejauh apa aku sudah berjalan meraih apa yang aku mau?
Berapa banyak tulang yang sudah patah jatuh bangun menampal semua kegagalan mengganti dengan hasil yang manis?
Berapa tetes air mata haru dan bangga yang sudah sempat menitik dari mata indah orang tua karena prestasi terbaikku?
Seberapa sering aku mengganggu tidur lelap mereka, menggantinya dengan gelisah memikirkan kekacauan yang aku sebabkan?
Yang paling ku khawatirkan, seberapa kuat aku bisa menahan bantingan hidup yang hadir tanpa manual instruction didalamnya itu?
Yang paling ku khawatirkan, seberapa kuat aku bisa menahan bantingan hidup yang hadir tanpa manual instruction didalamnya itu?
..........
Setelah memberi uang kembalian, si abang itu minta ijin sambil mengucapkan terima kasih. Sekilas terlihat sunggingan senyum dari dua bibirnya. ||
Tidak ada komentar:
Posting Komentar