Ombak dengan semangat memecah ketebing batu yang
membatasi sekeliling laut Alue Naga, isyarat bak anak kecil yang berkejaran riang
di halaman meunasah saat sore menjelang. Seorang ibu terengah-engah mengejar anaknya
yang berlari dengan tawa lepas di sepanjang garis pantai. Beliau cukup di buat repot
oleh si anak kayaknya, tapi itulah ibu, tak pernah mengeluh untuk si buah hati.
Disebelah kiri tempat aku melamun, sekelompok Polisi Perairan sedang tekun berlatih
renang, raga tegapnya dengan mantap menghantam dinding air lalu mengayuhlah mereka dengan tangan-tangan perkasanya. Sementara di sebelah kanan, sekumpulan mahasiswa yang sama seperti aku juga sedang duduk bercengkrama dengan rekan sejawat sembari menikmati senja di kuala yang luar biasa ini. Mungkin
mereka juga sedang melepas penat harian sambil bergelayutan dengan seribu satu pikiran
tentang hidup dan masa depannya. Kurang lebih seperti saya.
Lengan pendek penunjuk waktu di
notebook saya sudah menyentuh angka 6 dengan tangan panjangnya yang sudah
meraih angka 15. Matahari semakin turun. Menyiratkan semburat merah ke atas
ombak yang sedang bermain kejar-kejaran tadi. Twilight jingga ramah menyapa segenap penjuru, rasa damai berbalut kagum menyatu membentuk suatu komposisi yang menawan. Nuansa yang kadang lupa kita
syukuri, kebahagiaan sederhana yang di anugerahkan Tuhan dengan cuma-cuma kepada
kita semua.
Sunset, moment saat sang
penguasa siang bersiap untuk kembali keperaduaannya. Menyempurnakan teori
gerakan semu harian yang kerap dilontarkan guru-guru Fisika di sekolahku dulu.
Aku menyukai sunset, dan aku yakin semua kita menyukainya. Seolah ada dimensi
yang berbeda saat mega langit berubah membara, riakan air terpancar
kemerahan bagaikan batu safir delima, berkilau bak permaisuri selesai berkaca. Sunset
juga menyadarkanku untuk senantiasa berpikir kalau sesuatu itu tidak ada yang abadi di bumi ini. Terkadang,
di moment sunset aku berpikir, kalau teriknya siang pada akhirnya akan punah juga
terganti oleh sejuk malam. Walau hal yang sama akan kembali lagi esok hari,
tapi semuanya juga akan berakhir kembali sampai matahari sudah terlalu lelah
untuk bersinar, lalu pamit untuk istirahat panjang. Itulah hidup.
Bola api dunia semakin turun,
cahaya yang ditinggalkannya semakin redup. Angin sepoi semakin membelai. Aroma
laut semakin renyah. Ahh… bahagia itu sederhana. Hanya itu yang keluar dari
gumaman mulutku yang sejurus kemudian langsung kembali terpaku hanyut dalam sonata
senja yang mengalun batin.
Alue
Naga, 22 Mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar