Blog ini, bisa
dikatakan tempat ‘sampah’ dari apapun yang datang ke pikiranku. Senang, sedih,
kalut, panik, gelisah, atau apapun itu namanya, akan lebih mudah bagiku untuk
mengatakan semua hal itu kesini, dalam bentuk tulisan-tulisan sederhana yang
jauh dari istilah terorganisir ini. Sepele memang, tapi bagiku, coretan-coretan itu
lebih dari sekedar coretan. Mereka teman, teman yang tak pernah mengeluh, teman
yang tak pernah merasa jenuh mendengar isi hati 4L@y dari seorang aku. Begitu juga dengan sekarang, blog ini sekali lagi setia mendengar tumpahan kecamuk hati. Dan malam ini, aku kembali ingin membagi tentang sesuatu yang ingin dibagi.
Manusia, makhluk yang
penuh rasa, pemikiran, ambisi, dan tujuan hidup. Saya, anda, dia, dan mereka,
kita sama, punya cita yang mengeruk raga lahir dan jiwa batin kita, punya
ambisi yang harus di kejar, punya cinta yang harus di gapai walau bongkahan
rintang mantap merebak dalam hadang di depan mata. Semua berlomba-lomba untuk
mendapatkan apa yang mereka sebut kemenangan. Kemenangan dalam bentuk kilau
merahnya Ferrari, Taj Mahal megah yang menjulang dengan tulisan Dr. Fulan di
gerbangnya, butik Sophie Martin di ruang keluarga, berdiri sejajar bahu dengan
para pemikul bangsa, bersihnya kopiah putih yang melekat di kepala bang
haji Hamzah, tetapnya nikmat iman dalam
mengingat Tuhan dan surgaNya, ataupun sekedar sukses untuk bisa rutin tersenyum
di sebalik kasarnya kulit wajah hasil tempaan getirnya hidup.
Cita-cita, berhasil
membuat umat manusia sumringah menjadi khalifah bumi, tetapi peliknya cita-cita
pula lah yang terkadang membuat manusia muak dengan segala tetek bengek dunia
ini. Ambisi bisa merajah semangat dan bangga penuh makna jika hal tersebut
jelma nyata, tetapi terkadang ambisi jua lah yang akan menempatkan anak Adam ke
dalam hampa tak berujung, putus asa berantai, atau khilaf jadi keji. Cita-cita
dan semangat juang adalah pola dasar yang akan mengasah kejernihan hidup.
Tidak seperti mereka,
aku mungkin bukanlah seorang yang ambisius, kata orang ini sifat yang sangat tidak
baik. Semua blur, samar-samar bahkan
seterang apapun jalannya, keremanagan tetap porsi utama yang menghiasi hidupku.
Sejauh mana capaian dalam hidup yang ingin ku buat, defenisi itu harus ku
temukan. Mindset positif tingkat
dasar harus aku terapkan. Ambisius dan bersemangat. Bahwa, aku juga bisa
seperti mereka, si IPK 3,7, si anak mandiri yang dadanya membusung bangga
dengan hidupnya. Tetapi, aku terlalu takut untuk mencoba. Aku terlalu hanya
mencoba mengikuti alur yang ada, keluar dari tantangan dalam ketatnya
persaingan dengan resiko tertinggal di
belakang atau bahkan terinjak.
Sebenarnya tujuan hidupku
sederhana, ingin merasakan mentari pagi hari ini dengan senyum, menemani hariku
dengan senyum, ingin melihat anak istriku tersenyum, menutup hari dengan
senyum. Senyum paling tulus yang pernah di rasakan manusia manapun di dunia.
Senyum tulus karena bahagia dalam hidup, senyum karena aku menjadi orang paling
beruntung di dunia dengan memiliki mereka. Kaya lahir bagiku itu bonus, bonus
dari bongkahan emas kasih sayang yang jauh di lubuk sana.